Category Archives: English Corner

Cerita Dewasa Kupuaskan Wanita Seksi Pengantin Baru

14520600_919308578199668_3803328512916255427_n.jpgKLIKKIU.NET – kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Pria Yang bernama Romi. Berawal dari Romi yang mengintip pasangan pengantin baru yang sedang bersetubuh, yaitu Mas Alex dan Mba’ Rika. Karena saat itu Romi melihat Mba’ Rika tidak pernah puas dengan suaminya, maka Romi mengambil inisiatif untuk memuaskan Mba’ Rika. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Perkenalkan nama saya Romi, saya lelaki yang cukup dewasa karena saya telah berusia 26 tahun. Keadaan saya sekarang adalah seorang pekerja di salah satu perusahaan plastik. Disini saya akan menceritakan tentang kisah sexs saya dengan istri tetangga kamar kontrakan-kan saya. Kisah ini berawal dari sore itu, saya terbangun. Kulihat jam di dinding dikamarku menunjukkan pukul 16.00 WIB.

Pada sore hari itu saya iseng-iseng untuk memanjat dinding tembok pembatas kamarku, dan kamar sampingku yang ditempati oleh pasangan pengantin baru, yaitu Mas Alex dan Mba’ Rika. Saat itu saya Cuma bermaksud melihat aktivitas tetangga sebelahku melalui Fentilasi. Setelah saya lihat ternyata mereka sedang tiduran sambil mengobrol di atas ranjang.

Saat itu saya mengawasi terus kegiatan mereka, saat itu kulihat Mas Alex hanya memakai singlet, begitu juga Mba’ Rika yang hanya memakai baju dalam. Mentang-mentang mereka pengantin baru didalam kamar hanya memakai pakaian dalam saja. Saat itu saya berharap kepada meraka agar mereka segera berhubungan sexs.hhe. tidak lama setelah itu, Mas Alex dan Mba’ Rika berbicara sambil berpelukan.

Karena posisiku saat itu lumayan jauh dan hanya melihat dari sela fetilasi, maka saya kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Saat itu sesekali Mba’ Rika tertawa, dan Beberapakali pula saya amati Mas Alex meremas buah dada Mba’ Rika. Setelah sekian lama saya menunggu, pada akhirnya yang saya harapkan terjadi juga.
Tiba-tiba Mas Alex membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mba’ Rika. CERITA SEX

Lalu Mas Alex saat itu menyuruh Mba’ Rika memegang kejantanan Mas Alex. Mba’ Rika kelihatannya menurut dan memasukan tangannya ke dalam celana boxer Mas Alex, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mba’ Rika menolak. Yahhhh, baru disuruh gitu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh nyepongin, ucapku dalam hati kecewa.

Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Alex tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini dia hanya berCD (celana dalam) dan bersinglet. Kemudian Mas Alex-pun memeluk Mba’ Rika. Saya tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya bercinta tampaknya akan terpenuhi

Tidak lama kemudian, Mas Alex-pun melepas pelukannya dan Mba’ Mba’ Rika-pun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mba’ Rika hanya bersinglet dan berCD (celana dalam). Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.Kemudian mendadak Mas Alex mengeluarkan kejantanannya dari CD (celana dalam)nya. Kecil sekali, dibandingkan punysaya, ucapku dalam hati melihat kejantanan Mas Alex.

Mas Alex-pun langsung menghimpit Mba’ Rika, tampaknya Mas Alex akan ber-penestrasi Mba’ Rika. Kulihat Mba’ Rika memelorotkan CD (celana dalam)-nya hanya sampai sebatas paha saja. Sejurus kemudian saya melihat pelan Mas Alex memasukkan kejantanannya ke dalam lubang kewanitaan Mba’ Rika yang tertutup rambut kewanitaan.

Setelah kejantanan Mas Alex masuk keseluruhannya ke dalam liang senggama Mba’ Rika, Mas Alex langsung memeluk Mba’ Rika sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilsayakan cukup lama.Saya sedikit keheranan kenapa Mas Alex tidak melsayakan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya. Mas Alex hanya diam memeluk Mba’ Rika.

Payah nih, ini pasti karena Mas Alex nggak tahan bermain lama, nggak seperti saya ucapku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Alex. Disinilah saya mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melsayakan tumpangsari pada Mba’ Rika.Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 7 menit. Meskipun Mba’ Rika bisa mencapai klimaksnya, tetapi Mas Alex terlalu cepat.

Saya me-nangkap kekecewaan di muka Mba’ Rika, meski Mba’ Rika berusaha tersenyum setelah permainan itu, tapi saya yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Alex. Dari hasil pengintaian sayakemarin, hal itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan saya bisa menyetubuhi Mba’ Rika dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu saya juga akan menanam benih di rahim Mba’ Rika, Itulah tekadku.

Dari kejadian itu saya-pun mulai menyusun rencana. Kebetulan Mas Alex itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mba’ Rika. Apalagi saya punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Totok.Siang ini saya menjumpai Totok di kantornya,

“ Hai Rom, apa kabar ? ”, tanya Totok sambil menjabat tanganku.

“ Baik nih Tok ”, jawabku sambil ter-senyum.

“ Oh iya, duduk dulu deh Rom, biar enak kita ngobrolnya ”, ucap Totok mempersilahkanku.

Setelah saya duduk di kursi kantornya yang empuk itu, saya mulai mengajukan permintaan,

“ Tok, saya butuh bantuanmu ”, ucap saya.

“ Oh, itu semua bisa diatur, emang bantuan apa ni Rom ? ”, tanya Totok.

“ Aku butuh pekerjaan nih Tok ”, ucapku.

“ Ouh kerjaan, itu gampang Rom, memangnya kamu ingin diposisi apa dan minta gaji berapa ??? ”, tanya Totok.

“ Bukan buwat aku maksudnya Tok, tapi ini untuk orang lain ”, terang saya.

“ Hmmm… memangnya untuk siapa ? ”, tanya Totok. CERITA SEX

“ Untuk temanku, Mas Alex namanya Tok, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya ”, terang saya.

“ Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa ”, jawabnya.

“ Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, dan kamu wawancarnya kalau bisa diulang sampai beberapa kali gitu Tok ”, terangku pada Totok.

“ Oke deh Rom, kalau itu semua kemauan kamu ”, jawab Totok menuruti saya.

“ Tapi… nanti jadwal wawancara-nya saya yang tentuin ya Tok, hhe… Gimana, bisakan Tok ??? ”, pintaku lagi pada Totok.

“ Ah, kamu ini ada-ada aja deh Rom, yaudah deh terserah kamu aja deh Rom ”, ucap Totok mengiyakan kemauan saya.

Maka saat itu mulailah saya menyusun jadwal interview Mas Alex, mulai lusa, hari rabu sampai jumat dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.Totok menyetujuinya, kemudian saya permisi pulang. Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mba’ Rika itu. Sesampainya di kos-kosanku, saya langsung bertemu dengan Mas Alex di tempat cuci,tampak Mas Alex sedang menyuci bajunya.

“ Mas… saya ingin bicara sebentar ”, ucapku mulai membuka percakapan.

Saat itu Mas Alex-pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya,

“ Ada apa Rom ??? ”, tanya Mas Alex.

“ Begini nih Mas, saya dengar Mas Alex mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dia-nya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang ”, ucapku panjang lebar menjelaskan.

Saat itu saya sedikit berdebar-debar karena menunggu tanggapan Mas Alex. Setelah beberapa saat Mas Alex kulihat terdiam, merenung, lalu

“ Hmmm… saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya Rom ”,ucap Mas Alex.

“ Ya Mas sama-sama… ”, ucapku dengan senyuman.

Saat itu dalam hatiku, saya berpikir habislah sudah kesempatanku, tapi setelah di dalam kamar, sekitar 1 jam kemudian saya yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Saya lalu bangun, mengucek-ngucek mata saya, melihat dari jendela. Tampak Mas Alex berdiri menunggu. Saya-pun cepat-cepat membuka pintu.

“ Wah… sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja deh ”,ucap mas Mas Alex akan pergi lagi.

“ Enggak kog Mas, saya sudah bangun nih ”, ucapku berusaha mencegah Mas Alex pergi.

“ Gangguin tidur kamu nggak ? ”, tanya Mas Alex.

“ Ndak… masuk saja Mas ”, ucapku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku, lalu…

“ Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ? ”, tanya Mas Alex.

“ Ooo…itu di Kaliurang km 10 nomor 17, nama perusahaannya PT. A, nggak jauh kok Mas ”, terangku.

“ Syaratnya apa aja ya Rom kira-kira ? ”, tanya Mas Alex. CERITA SEX

“ Saya kurang tau juga tuh, Mas Alex pergi saja ke sana. temui teman saya, Totok, katakan Mas butuh pekerjaan ”, tahunya dari Romi.

“ Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja… ”, Mas Alex sepertinya keberatan.

“ Enggak… nggak… kog, perusahaan-nya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu ”, ucapku meyakinkan Mas Alex.

“ Hmmm…baiklah, saya coba dulu deh Rom, jam berapa ya ke sana ? ”, ucap Mas Alex.

“ Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja Mas ”, ucapku menyarankan.

Mas Alex hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadsaya. Saya hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai. Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Alex pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.Saya menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,

“ Assalamualaikum ”, saya memberi salam.

Waalaikumussalam, terdengar jawaban Mas Alex dari dalam kamarnya.Lama baru pintu dibuka, dan Mas Alex mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padsaya. Mba’ Rika tampak cantik sekali.

“ Bagaimana Mas, tadi ? ”, tanya saya.

“ Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk interview Rom ”, ucap mas Alex.

“ Alhamdulillah, saya doakan supaya keterima ya Mas ”, ucapku berbasa-basi.

“ Terima kasih ya Rom ”, ucapnya.

Setelah berbasa – basi cukup lama, sayapun permisi,

“ Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum ”,ucap Mas Alex berusaha mencegahku.

“ Ayo Mah buatkan air minumnya dong ”, perintah Mas Alex me-nyuruh istrinya.

Saya menolak dengan halus,

“ Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja kog, soalnya saya ada urusan ”, ucapku berpura-pura.

“ Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya ”, ucap Mas Alex.

Saya tersenyum mengangguk, kulihat Mba’ Rika tidak jadi membuat minuman. Sayapun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi adikku akan bersarang dan menemukanpasangannya.

Hari ini rabu, Mas Alex sudah berangkat dan meninggalkan Mba’ Rika sendirian dikamarnya. Rencana mulai kulaksanakan. Saya membongkar beberapa koleksi kaset pornoku, memilih salah satunya yang saya anggap paling bagus, kaset porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.Kemudian sambil membawa bungkusan Kaset itu, saya menuju ke kamar tetanggsaya, mengetuk pintu,

“ Assalamualaikum, saya mem-beri salam. Lama baru terdengar jawaban,

“ Waalaikumsalam ”, sahut Mba’ Rika dari dalam kamar itu. CERITA SEX

Tidak kama pintunya-pun terbuka, kulihat Mba’ Rika melongokkan kepalanya yang berjilbab itudari celah pintu,

“ Ada apa ya ? ”, tanya-nya.

“ Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa ucapku sambil menunjukkan bungkusan Kaset itu ”, ucapku.

“ Oh, baiklah ”, ucap Mba’ Rika sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.

“ Eee…tunggu dulu Mba’, ini isinya Kaset, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Alex ”, ucapku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mba’ Rika mempersilahkanku untuk masuk, saya yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer. Di dalam kamar, saya menghidupkan komputer dan mengoperasikan program dvd playernya, lalu kumasukkan kaset-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Kaset itu berjalan bagus.

“ Mba’ pingin nonton ? ”, tanya saya sambil melihat Mba’ Rika yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.

“ Film apa sih ? ”, tanya Mba’ Rika kepada saya.

Pokoknya bagus deh Mba’ filnya ”, ucapku.

Kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mba’ Rika , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya. Mba’ Rika hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian intinya. Pintu kamar tetangga saya itu-pun kembali ditutup, saya bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilsayakan Mba’ Rika.

Setelah di kamarku. melalui Fentilasi kulihat Mba’ Rika menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas saya menantikan reaksinya. Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mba’ Rika masih tetap menonton. Saya senang berarti Mba’ Rika menyukainya.

Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari saya harapkan, tangan Mba’ Rika saat itu mulai masuk ke dalam dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.

“ Ssssss… Oughhhh… Aghhhhh… ”, desahnya mulai terdengar.

Suara Mba’ Rika mendesah-desah , tampaknya merasakankenikmatan.Saya kaget, Wah, hebat ternyata ber-masturbasi ucapku dalam hati. Rasanya saat itu saya ingin segera masuk ke kamar Mba’ Rika, kemudian memeluk dan langsung menyetubuhinya. Saat itu masih hanya angan-angan, tapi saya sadar, ini perlu proses dan hal ini tidak semudah seperti yang saya katakan tadi.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Sayapun mulai melsayakan onani dengan memain-mainkan kejantananku. Film di komputer itu terus berjalan, kira-kira hampir 1jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mba’ Rika kulihat sudah empat kali klimaks, luar biasa.

Dan ketika filmnya berakhir, Mba’ Rika ternyata masih me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi klimaksnya menjadi lima kali.

“ Aghhhhhh… ”, Mba’ Rika terpekik pelan menandai klimaksnya.

Sesaat setelah klimaks Mba’ Rika yang kelima saya-pun ejakulasi.

“ Oughhhhh… ”, suara berat-ku mengiringi luapan air mani di tanganku.

Saya senang sekali, berarti saya lebih tangguh dari Mas Alex dan bisa memuaskan Mba’ Rika nantinya karena bisa klimaks dan ejakulasi bersamaan.Kemudian Mba’ Rika sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Kasetnya dan mematikan komputer. Setelah siang hari, Mas Alex baru pulang. Sedikit berdebar-debar saya menunggu perkembangan di kamar tetangga saya itu.

Saya takut kalau-kalau Mba’ Rika ngomong macam- macam soal Kaset itu, bisa berabe saya. Tetapi kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali saya mengintip lewat Fentilasi, apa yang terjadi di sebelah. Begitu saya mulai mengintip, saya kaget ! Karena kulihat Mba’ Rika dalam keadaan hampir bugil. Saat itu Mba’ Rika hanya memakai CD (celana dalam) dihimpit oleh Mas Alex.

Lalu mereka-pun mulai bersetubuh. Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mba’ Rika kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai klimaks. Bahkan saya melihat Mba’ Rika seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika buah dadanya diremas. Bagaimanapun saya senang, langkah kedua saya berhasil.

Hal itu membuat Mba’ Rika tidak bisalagi mencapai klimaks dengan Mas Alex. Prediksiku, Mba’ Rika akan sangat tergantung pada Kaset itu untuk kepuasan klimaksnya, sedangkan cara menghidupkan Kaset itu hanya saya yang tahu, disinilah kesempatanku. Hari Kamis, pukul 09.00 pagi, saya bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya.

Kebetulan saat itu hari cuti bersama diperusahaan saya, pas sekalikan para pembaca. Hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin saya telah mengintip Mba’ Rika dan Mas Alex seharian, mereka kemarin ber-setubuh hanya 2 kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mba’ Rika tidak bisa klimaks.
Malam kemarin saya juga sudah bersiap-siap dengan minum segelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermsaya. CERITA SEX

Pada pagi hari itu, setelah saya mandi, saya berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti saya melangkah ke tetangga sebelahku, Mba’ Rika yang sedang sendirian. Kembali saya mengetuk pintu kamarnya pelan,

“ Selamat pagi Mba’ ”, ucapku msembari mengetuk pintu Mba’ Rika.

“ Iya, siapa yah ”, suara lembut Mba’ Rika menyahut dari dalam kamar.

Mba’ Rika-pun membuka pintu, kali ini dia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang se’dikit terbuka. Saat itu dia memakai jilbab biru dengan motif renda, terlihat sangat manis sekali,

“ Oh kamu Rom, kenapa lagi Rom kamu kesini ??? ”, tanya Mba’Rika.

“ Gini Mba’, saya kemarin lupa memberitahukan cara mengelurkan kaset yang kemarin Mba’ ”, ucapku sambil tersenyum.

Tiba-tiba raut muka Mba’ Rika menjadi sangat serius,dan berkata

“ Kamu bener-bener kurang ajar ya Rom, masa kamu muterin Kaset porno pada Mba’ ”, kata Mba’ Rika sedikit keras.

Saat itu saya terkaget, ternyata dia mara. Lalu saat itu juga saya cepat mengarang alasan,

“ Wah… maaf Mba’, kaset itu adalah hadiah dari teman saya Mba’, setahu saya isi kaset itu adalah film humor, maafin saya ya Mba’, kasetnya tertukar, yaudah saya ambil lagi ya Mba’ kasetnya, seklai lagi maafkan saya ya Mba’ ”, ucapku.

Saat itu Mba’ Rika tidak menjawab, lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Saat itu dia tampak kecewa, saya senang berarti dia takut kehilangan Kaset itu. Lalu saya-pun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka. Mba’ Rika kaget, melihatku mengikuti langkahnya,

“ Eeeh… kamu kok ikut masuk juga ??? ”, ucap Mba’ Rika.

Saat itu sambil menutup pintu kamar Mba’ Rika, dengan tenang saya menjawab,

“ Ahhh… Mba’ jangan munafiklah, toh Mba’ juga menyukai kaset porno itu, saya lihat Mba’ sampai masturbasi segala ”, ucapku dengan tegas.

“ Kurang ajar kamu ya Rom, keluar nggak kamu !!! Kalau tidak saya akan berteriak ”, gertak Mba’ Rika.

“ Mba’ jangan marah dulu, coba Mba’ pikirkan lagi, sejak menonton Kaset itu, Mba’ tidak bisa lagi klimaks dengan Mas Alex khan ”, ucapku sembari merebut kaset itu dan mematahkannya. Seketika itu Mba’ Rika terkejut,

“ Ka… kamu… ”.

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, saya memotongnya,

“ Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mba’ Rika, saya jamin Mba’ Rika bisa klimaks bila main dengan saya ”, rayuku.

“ Kurang ajar, Keluar kamu !!! ”, gertaknya lagi.

“ Oh tidak bisa, tidak segampang itu Mba’ mengusir saya, ayolah Mba’ Rika jangan marah !!! pikirkan dulu, saya satu-satunya kesempatan, bila Mba’ Rika tidak memakai saya, seumur-umur Mba’ Rika nggak akan pernah mencapai klimaks lagi ”, ucap saya terus menghasutnya.

Saat itu Mba’ Rika terdiam sebentar, saya senang dan berpikir dia mulai termakan rayuanku, namun,

“ sekali tidak ya tidak, kamu ngerti nggks sih ??? keluar kamu !!!! ucap Mba’ Rika membentak saya lagi. CERITA SEX

Sebenarnya saat itu saya mulai takut dan gemetar, tapi saat itu sudah terlanjur basah, maka saya terus berusaha untuk merayu Mba’Rika dan berkata,

“ Sebaiknya Mba’ pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mba’, saya satu-satunya kesempatan Mba’, kalau Mba’ tidak mengambil kesempatan ini, Mba’ akan menyesal seumur hidup… ”, ucapku sedikit tegas.

Lama kulihat Mba’ Rika terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Saya pura-pura mengalah,

“ Ya udahlah, jika Mba’ tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mba’ ”, ucapku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mba’ Rika hanya diam terduduk di ranjangnya, saya membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan saya mendekati Mba’ Rika, kulihat dia menangis,

“ Mba’, jangan menangis gitu dong, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mba’, ucapku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan-pelan kupegang pundak Mba’ Rika dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Mba’ Rika hanya menurut saja, saya senang seklai saat itu, ternyata rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.Kemudian saya mulai membuka resleting celana panjangnya, saat itu dia tampaknya inign menolak, namun saat itu saya dengan santai menepis tangannya.

Saya-pun melanjutkan aksi saya dengan memasukkan tanganku ke dalam celana Mba’ Rika. Tanganku masuk kedalam CD (celana dalam)nya, lalu langsung jariku menuju ke tengah lubang birahinya. Saya sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubangitu berkali-kali.

“ Aghhhhh… Ssss… Aghhhhhhh ”,desahan Mba’ Rika mengiringi setiap aksi jemariku.

Saya ingin membuatnya terang-sang dan mencapai klimaks. Lalu dengan cepat kutarikcelana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, saya langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mba’ Rika dengan merata. Sayapun mengincar klitoris Mba’ Rika yang tersembul ke luar dari bagian atas liang senggama-nya.

Tanpa buang waktu saya langsung mengkulum klitoris itu di dalam mulutku,

“ Eummm… sruppp… eummmm… sruppp… sruppp ”, suara lidahku menari-nari di di klitoris-nya, ssembari sesekali kugigit pelan-pelan klitoris Mba’Rika.

“ Aghhhh… Oughhhhh… Sssssss… Rom… Aghhhhhh ”, desah Mba’ Rika mulai terdengar.

Saat itu tanganku semakin kupercepat menusuk liang senggama Mba’ Rika dan lidahku makin menggila menari-nari di atas klitorisnya itu. Perlahan kubimbing Mba’ Rika mencapai puncaknya, hingga akhirnya…

“ Oughhhhhhhhhhhhhhh…. ”, terdengar pekikan pelan Mba’ Rika mengiringi klimaksnya.

Pada saat itu saya melihat jemari tanganku sudah basah, hal itu bukan karena liurku melainkan karena lendir kawin Mba’ Rika yang telah basah. Saya mencium kewanitaan itu, tercium bau khas cairan kewanitaan wanita yang klimaks. Saya tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mba’ Rika mencapai klimaksnya.
Tetapi saya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah memelankan permainan jariku di liang senggama-nya, kini permainan jari saya-pun kembali kupercepat. Terdengar desahan Mba’ Rika,

“ Aghhhh… Oughhhh… yeaah… ”, Mba’ Rika mulai meracau.

Sementara tangan kiriku beroperasi di kewanitaan Mba’ Rika, tangan kananku mulai meremas blus Mba’ Rika, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah buah dada Mba’ Rika yang indah membukit.Kemudian saya menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas buah dada Mba’ Rika bergantian,

“ Slurrpp… slrrrrpp… .slluuurpp ”, suara hisapan saya pada puting Mba’ Rika.

Dan sat itu-pun desahan Mba’ Rika mulai terdengar di telinga saya, CERITA SEX

“ Ughhhh… Aghhhh… terus… Rom… terusin… Sssss… ”, ucapnya.

Saat itu dengan tangan kiriku tetap beraksi di kewanitaan Mba’ Rika. Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mba’ Rika yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mba’ Rika sedikit kaget,

“ Oughhhh… eummm… slurpppp ”,

Saat itu Mba’ Rika tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, dan lidahnya kini-pun bertemu dengan lidahku yang mulai menari-nari didalam mulutnya. Saat itu saya memang berusaha membimbing Mba’ Rika agar klimaks untuk kedua kalinya. Agar di saat klimaksnya itu saya bisa memasukankejantananku, mempenetrasi kewanitaannya.

Karena saya sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran kejantananku lebih besar dari punya Mas Alex yang biasa masuk.Sambil mencium dan merang-sang liang senggama Mba’ Rika, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan boxer, lalu melemparkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus – elus Torpedoku yang terasa mulai mengeras.

Setelah sekian lama, pada akhirnya Mba’ Rika mencapai klimaksnya untuk yang kedua kali,

“ Oughhhhh… Ssssssssssssssss…. Enak Rom… Aghhhhhhh ”, desah Mba’ Rika.

Mba’ Rika mengerang, tetapi belum selesai erangannya, saya langsung menusukkan kejantananku pelan-pelan ke dalam kewanitaannya.

“ Ughhhh… Ssss… Aghhhhh…”, suara Mba’ Rika terpekik.

Saat itu diiringi dengan atanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, saya tersenyum.Sayapun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mba’ Rika dengan kedua tanganku, lalu kulsayakan penetrasi Torpedoku pelan-pelan lama kelamaan menjadi semakin cepat.

“ Clepppp… Slerppp… Pyekkk… Pyekkk… Pyekkk… ”, suara kewanitaan yang mulai basah karena kejantananku mulai terdengar.

Lalu Mba’ Rikapun berkata,

“ Oughhhhh… yeaaah… terus Rom, Oughhh… Sssss… Aghhhh… ”, racau Mba’ Rika mulai tidak terkendali.

Saat itu sayapun semakin mempercepat genjotan, kini kedua kakinya saya sandarkan di pundakku, dengan posisi pinggul Mba’ Rika sedikit kuangkat lalu saya-pun terus mendorong pinggulku berulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mba’ Rika yang indah, sambil menggenjot saya membelai rambut hitam itu.

“ Oughhhh… Oughhhhh… Ssss… aghhhh… ”, desah kami saling beriringan.

Suara desahanku dan Mba’ Rika terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.Setelah lama, saya mengubah posisi Mba’ Rika, badannya kutarik sehingga kini diaada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara kejantananku dan kewanitaannya masih menyatu. Tanganku memegang pinggul Mba’ Rika, membantunya badannya untuk naik turun.

Kepala saya kini dihadapkan pada dua buah dada montok yang segar dan berayun-ayun akibat gerakan kami berdua. Saat itu saya-pun langsung membenamkan kepala saya ke dalam kedua buah dada itu, menjilatnya dan menciumnya be-gantian.Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama… .

“ Ughhhh… Ssss… Oughhhhh… ”, desah Mba’’ Rika.

Desahan panjang Mba’ Rika itu pertanda bahwa Mba’ Rika telah klimaks, saat itu kepalanya mendongak menatap langit-langit kamarnya saat. Saya senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, saya lalu mencium mesra bibir Mba’ Rika dan Mba’ Rika juga menyambut ciumanku.
Saat itu kami-pun saling berciuman dengan mesra, sungguh nikmatnya. Tidak lama saya-pun menghentikan ciumanku, saya kaget, Mba’ Rika ternyata menangis, lalu aku bertanya,

“ Kenapa Mba’ Rika ? saya menyakiti Mba’ ya ??? ”, tanya saya lembut penuh sesal.

Dengan masih terisak karena menangis, Mba’ Rika menjawab,

“ Nggak kog Rom, kamu justru telah membuat Mba’ bahagia, sebelumnya Mba’ belum pernah merasakan kebahagian seperti bersama suami Mba’”, ucapnya. CERITA SEX

Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan saya baringkan Mba’ Rika. Perlahan saya mengencangkan penetrasiku kembali.Sambil meremas kedua payu-daranya, saya membolak-balikkan badan Mba’ Rika ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,

“ Aghhhh… Aghhhh… Aghhhh… ”, desahku.

“ Oughhhh… Oughhhhh… Ssss… aghhhh… ”, desah Mba’ Rika .

Sampai pada akhirnya saya mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan kejantananku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.Saya ingin melsayakannya ber-sama dengan Mba’ Rika. Untuk itu saya memeluk Mba’ Rika, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahsaya berhasil karena perlahan Mba’ Rika kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mba’ Rika,

“ Ughhhh…Tahan… tahan… Mba’, kita keluarkan bersama-sama ya Mba’, Ssss… Aghhhhh… ”, ucap saya menahan Mba’ Rika.

“ Oughhhh…Ssss… saya udah tidak tahan lagi Rom… Oughhhh…”, ucap Mba’ Rika, sembari mendesah.

Saat itu saya melihat matanya terpejam kuat menahan klimaksnya.

“ Pelan – pelan saja Mba’, kita lsayakan serentak ”, ucapku berbisik sembari kupelankan ayunan torpedoku.

Pada Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, kejantananku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga saya mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.

“ Ouhhhh… Ssss… Aghhh… ”, Desah Mba’ Rika.

Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan kejantananku,

“ Lepaskan… lepaskan… Mba’, sekarang !!! suarsaya mengiringi desahan Mba’ Rika.

Sketika itu Mba’ Rika-pun menuruti saranku, diapun akhirnya melepaskan klimaksnya,

“ Ouhhhhhhhhhh… Ssss… Aghhhhh… … ”, desah Mba’ Rika.

suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi klimaks Mba’ Rika. Saat itu saya-pun memeluk erat ketika dia mendapatkan ejakulasi-nya. Setelah permainan sexs itu, masih dalam keadaan bugil saya terkapar di samping Mba’ Rika yang juga telanjang. Mba’ Rika memelukku dan mencium pipiku berkali-kali sembari membisikkan sesuatu ke telingsaya. CERITA SEX

“ Makasih ya Rom, saya puas sekali dengan permainan sexsmu… ”, bisik Mba’ Rika puas kepada saya.

Saat itu Mba’ Rika saya lihat senang, kemudian dia memeluk tubuhku dengan erat, sembari menyandarkan kepalanya di atas dadsaya. Dalam hatiku saya merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Saya sedih dan menyesal melsayakan ini dengan Mba’ Rika, saya takut dia tidak akan pernah lagi mencapai klimaks selain dengan diriku, ini berarti saya menyengsarakan Mba’ Rika.

 

 

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

Childhood Time and Beyond…

childhood-009.jpgKLIKKIU.NET

 

 

 

Childhood time is a magical time)

      and it’s all about magic (really)

               life is

It’s so beautifully full of magic

               life is 

And youthful joy is that wonderment

      and that feelingcloseto

               sweet immortality

So many adults lose those wonderous moments

      drink to their bitter depression

      and go through the motions without

               ever being alive

?Why do they stop asking questions

?Why do they with starched faces

      cadaverously walk right past joy and beauty

I don’t ever want to grow up

I don’t ever want to grow up

I don’t ever want to grow up

Childhood time is a magical time

      and it’s all about magic

               (really)

 

 

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

Friendship

img_1159.jpgKLIKKIU.NET – None of us can get through this life alone, we are not made that way.  We are born into a family group and from there we spread out into the world and join other groups.  We make friends along the way, special people we want to be with, that give us something and get something back from us.  Real friendship is a blessing, these people we love as we love our family, for some who have experienced difficult upbringings these are the only family they may ever have.

So what is a friend.  To me a friend is someone who understands us and likes what they see, friends look beyond the outer shell and understand the soul of us.  Our friends champion us, they will us on and help us get there.  There is no jealously or competition in friendship, we want and wish for our friends to be happy.

I’m not like all my friends, we don’t have to think the same or say the same we just have to love each other.  My oldest friend I met at 4, I knocked on her door and asked if she wanted to come to my party.  I was new on the estate, mum had just divorced and we had moved back to London where she could work in the city.  I told her ‘it won’t be a very big party because I haven’t got a daddy’.  Well she came and we have been great friends ever since.  We rarely see each other, a couple of times a year and apart from the odd email and text we are not in contact a lot but we love each other dearly.  When my mother died she was the first person I phoned, she loved my mum very much too.  She was a rock through those dark days, along with other friends and I don’t know how my sister and I would have got through without them.

I’m not really like any of my friends, we are all different and that’s good.  One friend I met through work, we worked in a children’s home where violence and aggression were a daily occurrence.  We understood the children were traumatised and their behaviour was just a communication of their emotions and early life experiences but it didn’t stop us getting hurt on occasion.  I knew this girl was always behind me, she always had my back and me hers, so it was only natural we would become good friends.  We have been friends ever since and we continue to support and have each others backs.  Funny we are nothing alike, we like different music, choose different places to go and have different interests but experience holds us together.

I have a friend who always leaves flowers on my kitchen table for me to return to when I have been away, she has recently started a blog on here and knows who she is and that I love her dearly.

I haven’t mentioned family, those very special and wonderful friends, because they deserve a special post just for them, but my son and sister are my best friends and I still talk to my mum daily and know she listens.

Friendships can be transient, people come into our lives for the time we need them, they complete the task and move on, it might be we were supposed to do something for them.  I think friends are probably planned before we come here, some of these people we have known before in other lifetimes, that’s why we recognise them.

I am so blessed with the friends I have, those that have been and those yet to come.

 

 

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

Love’s Playground

8465049007_e2d28b1cef_zKLIKKIU.NET – Down in love’s playground
All relationships captured
In childhood amber

Here, giggling on swings
One pushing and one kicking,
Never together

Here, on climbing frame
A mad scramble to the top;
King of the castle

Here, swooshing down slides
Patiently waiting their turn
For such fleeting joy

Here, merry-go-round
Spinning faster and faster
Out of all control

Here, levered see-saw
Where, for one to touch the sky,
One must hit the ground

There, the lucky ones
Dusty knees in the sandpit
Building together

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

Now, When I Remember You

now-when-i-remember-you.jpgKLIKKIU.net

 

To tell the story of a life
Takes many pages, many words;
To tell the story of a love
Takes every bit as long

The you I saw in summer fields
Beneath an endless weightless sky
The you I felt in tenderness
The softness of your skin, a sigh

For now, when I remember you
There is a novel in my mind;
The beauty of your memory
Is always young, and brave, and kind

There’s beauty in the world, I know,
But I thought I had lost it then:
You walked into the room, and I
Became the mindfulest of men

But this – this was not me at all
This was all you, and love; it was
A type of wakeful dreaming where
I did not want to wake, because

Your magic was in everything.
If ever a man loved, I did:
I cherished every moment, and
I lay awake at night and bid

The minutes slow their very march.
To lengthen time, our time, so much
As possible; to see your eyes
To stroke your hair, to softly touch

Your skin beneath your summer dress.
To love you there with all my heart;
Your words of warning in my ears
That love is short and lovers part.

A life, my life, what is it now?
It’s just a cold and fading fire
A soon forgotten flickering
Of what was once raging desire

And all for you, my long true love –
Who taught me wonder in the night,
Whose hand I took to cross the bridge
Of leaving off and doing right

The day is closing in, and I
Put down my pen, and rest a while –
For now, when I remember you
I shiver once, and lastly
Smile

 

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

Radical Authenticity

img_7035KLIKKIU.net – Lately it feels like there’s a rebellion afoot. More and more, I’m seeing writers challenge platitudes about living authentically and mindfully.

I like mindfulness and authenticity. I also like honesty and candor.

That’s why Dani Shapiro’s featured Discover post, On Authenticity, resonated with me. In it, she describes the nearly ubiquitous practice of scrolling through our social media feeds and the gnawing insecurity that often follows when viewing other people’s curated and seemingly perfect online personas.

There’s a phrase for this feeling, she says: identity fatigue. We’re spending so much time trying to appear authentic and happy that we’re exhausting ourselves in the process. In Shapiro’s words:

There is a thin but very real layer that separates the me that performs publicly from the me that wakes up in the morning with all my usual vulnerabilities, weaknesses, worries. I suppose I would liken it to one of the differences between writing fiction and memoir. When we write, we know when we’re inclining ourselves in the direction of imagination — and when we’re hewing to memory. The feeling is unmistakable.

Almost on cue, my friend and a colleague shared an article, America is obsessed with happiness — and it’s making us miserable, in which a British expat in the US explores her own culture shock around our seeming obsession with happiness, mindfulness, and self-empowerment. According to science, she says, it would appear this obsession with always being happy is actually making us more anxious and less joyous.

As a writer, and a human, I love exploring all elements of our emotional lives. After all, what is a good emotion and what is a bad one? Michael Singer, author of The Untethered Soul says, “If you are avoiding pain, then pain is running your life.”

As you open up a New Post page this week, meditate on Shapiro’s words. What does authenticity mean to you? How do you feel right now, in this moment? When you identify how you feel, do you judge it? Is there a “should” that arises, like “I should be happier” or “I should be reading that book”? If so, explore that. Dig into the areas of your self that you’re afraid to embrace or show. The best writing comes from a place of honesty and vulnerability because it shows us what we’re all thinking, but are afraid to say.

That kind of bravery is what builds friendships, communities, and ideas. Be authentic, radically so.

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

How to Create Photos that Tell Stories

KLIKKIU.net – Let me start with a quote from a manga series “Boys Be” which was created and written by Masahiro Itabashi. Spoken by the main character in the series Kyoichi Kanzaki, the visual artist eloquently said: “There are many books in the library. Each book has a wonderful story that will never happen in reality. But when you fall in love, reality becomes a story far more beautiful than any book can tell.”

Drawing from it, I could also say that there are lots of scenes we see, shoot and create as a street photograph in the great wide open spaces, each shot we make, each frame we post could is just another image, but when love and your passion is into it, your photo as a reality becomes a story, that “once upon a time”that made you smile.

From my experience, from I had seen, heard and read, this is How to Create Photos that Tell Stories: 

1. You must be in Love with Street Photography. This is what counts most. To illustrate-You walk for hours and miles in search for something that comes in moment; You are not paid for this; Your photos are not deemed “beautiful” in universal standards; You don’t get so many “likes” if your photo is not tangible enough; You must be crazy  shooting other people in various places with nothing in return except for the love of street photography. This drives you to take another step for a photowalk. This propels you to pack your bags go to exotic places and document life as it is. This powers you to leave the comfort of a dry space and  get wet in the rain and see the unseen. Without this, this love for Street Photography, you may have an image or two but it does not tell your story.

John Free in a recent FB status said:   “I have seen from a long life in this field of photographing and of working together and photographing together with others, that we all have great passion deep inside us all. The passion I think must come from a dedication to a grand intent or purpose, which is to do our best in order to give something of great value to others from us to them.  ….our entire being, to give out only the best product from down deep in us all where the true a great passion comes from. Bring the passion to the surface by doing a grand performance with your self and with the life that surrounds you and make something from this performance that all mankind can value as great and grand and from you with this loving performance with life itself.”

2. You must know what  a photograph really is. “A PHOTOGRAPHIC IMAGE is a product or confluence of three components as captured within a frame.” The three components can be described as:

SUBJECT, CONTENT and FORM.

_MG_7870

SUBJECT can be defined as to what image is about. CONTENT  as subject matter can also be defined as those persons, places or things that are visibly present and/or identifiable in the image. When the subject (or theme) and content (or subject matter) are understood as separate yet interdependent image components, photographers can combine them more accurately to convey meaning. FORM is the organizational structure, the way an image is composed, in order to USE CONTENTto communicate about a SUBJECT.

Well if you shoot street, and you think it is a Street Photograph, and you think it has something worth to be told. Ask yourself as the photographer: Can I describe what I shot in one single sentence? What is this image all about? What did I use to come  up with this image?

3. You must Know How to Speak the Language of the Image. This is one of the most important things I learned from my mentor Luis Liwanag . I cannot forget it. In his workshops I learned about the Language of the Image, the use of Visual Elements. This refer to the technique, style and types of photos used by photographers to masterfully emphasize, embellish, or strengthen their compositions.

Among the many Visual Elements one must employ to create photographs that communicate, I have a favorite three:

3.1. Juxtaposition -Placement of two or more things side by side. It could also be a presentation of  contrasting or opposing elements  to convey irony.  This is an important Visual Element , learning this makes you deliver a scene wherein two or more things that are placed side by side, brings out their differences or similarities or connections. It allows and encourages the viewer to make immediate comparisons otherwise ignored or unapparent, it highlights certain characteristics of subjects, to make different subjects more alike, or challenge the typical perspective on a subject. Using Juxtaposition makes the photographer tell a story according to his liking, according to his vision, other than what is generally seen.

Portfolio11

3.2 Point of Entry is the spot inside the frame that immediately catches the eye, drawing the reader into the content of the photograph. It could be a person jumping, or a looking eye, or a magnetic smile. It could also be an element that breaks the pattern, a path to your allegory.
DasalNgMgaMadre

3.3 The Visual Element of Surprise are images show readers the unexpected. It could be a surprising character jotting out of the frame, or a poignant moment with a twist, Use this and your photo may evoke an emotional reaction from your viewer. This kind of photo produces a kind of dynamism, most often, that overlooked part of life which is found in humorous images. Understand the phrase “life is a box of chocolates”. Be open to whatever the street would throw at you.

Portfolio13

Combine more or less these three visual elements and you got Layering. Dominant Subject /foreground with Informational background Formed in non-overlapping planes.

Portfolio9

4. You must know how to express yourself. I learned this from Eric Kim. Personally. He does not say it much from workshops but if you are around him, you will know it. Work the scene. Get close, go far, walk around but never leave your eye on the subject until the photo is an expression of yourself. As Eric would always say: “When you look at the images of a street photographer, you are also getting a look into their soul.”

eric-kim

I am limiting it to four. It is quite complete.

1. Love for Street Photography
2. Understanding What a Photograph really is.
3. Knowledge of Visual Language
4. Knowledge on How to Express Yourself.

Go out and shoot stories.

 

https://kenikmatanpria.wordpress.com/

No Face

shawdowsKLIKKIU.net – Closure. Connection. Comprehension. I’m not sure if these are the perfect words for what I want out of myself. They just look safe. They just seem like the type of diction people find in their lives that makes them understand what they’re all about. I’ve hated people for it. Knowing themselves, understanding their limitations and aspirations. I’m not sure how anyone can actually know these things about their life. The world, reality, it constantly flows like some secret river in a haunted cave with a ghoul fishing it. You never really understand it. Chaos appears. Happiness too. They swing back and forth like that pixel-forged pendulum from the intro to Chrono Trigger. This is the nature of our existence.

I guess I just get jealous of other people because they appear to have control. They present this illusion that they have the answer to every question life will throw at them. Usually, it is fear of change that puts people in control. You do not fear the woods because you will never walk in it. You do not fear the mountain because you will never climb it.

You will never understand the demon because you’ll never want to see it.

I work in monsters a lot. They make the more complex emotions in our world more palatable and understandable. You can study how people react to them. You can evaluate the very basic emotions. Fear, love, hope, a monster puts them all in perspective. Nothing makes a human more human than when a devil crawls out of a cave looking for fresh meat. Nothing makes life simpler than a half-metal dragon hunting you through the sky like some phantasmal arrow. This is why I love monsters.

They aren’t a parlor trick. They aren’t a tool for entertainment. They aren’t something to gross you out and make you cower beneath the blankets. I don’t use them to garnish cheap feelings out of you. I’m not trying to make you scared. Monsters are not some sort of game to me.

After all, I have one living inside of me.

If you’re honest to yourself about a mental illness, whether it is anxiety, or in my case depression, you realize you have little to no control over this feeling. You are eternally lost. You are the lost wanderer looking for hope before the end of the world. It is not a welcoming feeling. It makes most people crumble. Some face suicide. I have been there. I have been to the bridge and watched the rocks curve beneath the water like lost sound waves. Some choose withdrawal. They hide from the world behind their children and family, until the outside has changed so much they can’t relate to it. Others hide behind crappy jobs, other people’s expectations, or a culture’s own hypocritical view of life. You then take out this pain of non-being on the people around you. Another action I’m very guilty of committing.

So what to do with the unseen force? How do you accept that you’ll never be cured of sadness, anxiety, or any of the inherent chemical disfigurements of your brain’s colliding gray matter? Are you cursed? Has god forsaken you like in a Greek myth? Are you tied eternally to a rock with an eagle prying out your liver?

No.

The answer is better than you think. Accepting the chaotic nature in yourself is to realize the lack of control in the universe around you. Instead of focusing on trying to cure an incurable ailment, you should adjust your lens to the parts of your life you have control over. For me, it is the creation of monsters. This is by far my favorite past-time, my interest in media, and now my profession. Instead of trying to conquer my depression, I apply monsters to it so I can understand it easier. I focus on what I’m good at.

Sometimes, when the house is quiet and empty, I close my eyes and look into my mind for my depression. I don’t find anything at first. Then I give it some air. A fog wraps around the room. The mist is black and inky, like I was trapped in some stormy gem atop a mad king’s scepter. I don’t blink. I don’t fall asleep. I don’t move a single atom of my body. It simply rises up out of the floor. An undead serpent rising in a sea of tombstones. A dragon rising up from its golden hoard.

It has no real form. Just a hood pulled tight around it’s shoulders. There is a gap of darkness where its face would be. The abyss could both murder you and raise the dead. It rivals the void you’d see spinning at the center of a black hole, yet, it is the shape of a man. The shape of me.

That’s all I get.

And more importantly that’s all I want. A complete and utter answer to my depression will never be said. A remedy or cure isn’t possible. I cannot mask, change, morph, or cloak my disease like a flaw in a painting. All I can do is give it a shape without a face. All I can do is make monsters so that sometimes I can understand myself. I can comprehend the sadness that powers me like a lost reactor on some abandoned planet. A metaphor will do, because the truth will never be there. It is lost in the chemical composition of my brain.

I will never see my monster’s face.